Rumah Sakit Ibu dan Anak Ummu Hani Purbalingga

WASPADA dengan VAKSIN PALSU!!

NAMUN

Bagi para orang tua yang masih memiliki anak kecil yang masih memerlukan vaksin imunisasi, tak perlu risau karena RSIA Ummu Hani Purbalingga menggunakan Vaksin ASLI berasal dari dinas kesehatan dan distributor resmi.

Jenis-jenis vaksin

Berikut ini adalah jenis-jenis vaksin yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Di Indonesia, vaksin hepatitis B, polio, BCG, DTP, dan campak merupakan vaksinasi yang diwajibkan. Sedangkan sisanya merupakan vaksinasi yang sifatnya hanya dianjurkan.

Hepatitis B

Hepatitis B merupakan salah satu penyakit infeksi hati berbahaya yang disebabkan oleh virus.

Pemberian vaksin hepatitis B pada anak dilakukan dalam kurun waktu 24 jam setelah kelahirannya, bahkan yang paling baik adalah dalam kurun waktu 12 jam. Vaksin ini kembali diberikan saat anak genap berusia satu bulan dan enam bulan.

Efek samping yang umum dari vaksinasi hepatitis B adalah demam dan kelelahan, sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah gatal-gatal, kulit kemerahan, serta pembengkakan pada wajah.

Polio

Polio merupakan penyakit virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Pemberian vaksin polio harus dilakukan dalam satu rangkaian, yaitu pada saat anak baru dilahirkan dan pada saat anak berusia dua, empat, lalu enam bulan. Selanjutnya vaksin booster diberikan saat anak berusia satu setengah hingga dua tahun, kemudian pada usia lima tahun. Dosis vaksin booster diberikan untuk lebih memperkuat sistem kekebalan tubuh terhadap virus polio.

Efek samping vaksin polio yang paling umum adalah demam dan kehilangan nafsu makan, sedangkan efek samping yang sangat jarang terjadi adalah reaksi alergi.

BCG

Vaksin BCG diberikan untuk mencegah penyakit tuberkulosis  atau yang lebih dikenal sebagai TBC. Penyakit ini menyerang sistem pernapasaan dan tergolong berbahaya, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Pemberian vaksin BCG hanya dilakukan satu kali, yaitu pada kisaran saat anak baru dilahirkan hingga berusia dua bulan.

Efek samping vaksin BCG yang paling umum adalah demam dan munculnya benjolan bekas suntik pada kulit, sedangkan efek samping yang sangat jarang terjadi adalah reaksi alergi.

DTP

Vaksin DTP merupakan jenis vaksin gabungan. Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit difteri, tetanus, dan pertusis. Pertusis lebih dikenal dengan sebutan batuk rejan.

Difteri merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan sesak napas, radang paru-paru, hingga masalah pada jantung dan kematian. Sedangkan tetanus merupakan penyakit kejang otot yang juga tidak kalah mematikannya. Dan yang terakhir adalah batuk rejan atau pertusis, yaitu penyakit batuk parah yang dapat mengganggu pernapasan. Sama seperti difteri, batuk rejan juga dapat menyebabkan radang paru-paru, kerusakan otak, bahkan kematian.

Pemberian vaksin DTP harus dilakukan dalam lima dosis, yaitu pada saat anak berusia:

  • Dua bulan
  • Empat bulan
  • Enam bulan
  • Satu setengah hingga dua tahun
  • Lima tahun

Efek samping vaksin DTP yang tergolong umum adalah rasa nyeri, demam, dan mual. Efek samping yang jarang terjadi adalah kejang-kejang. Selain vaksin DTP, tersedia juga vaksin Td yang melindungi tubuh dari difteria dan batuk rejan. Vaksin Td diberikan untuk anak di atas umur 7 tahun yang tidak menerima vaksin DTP. Vaksin Td perlu diulangi tiap sepuluh tahun untuk mempertahankan kekebalan tubuh terhadap difteria dan batuk rejan.

Campak

Campak adalah penyakit virus yang menyebabkan demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, dan ruam. Vaksin campak diberikan dalam tiga dosis yaitu pada saat anak berusia sembilan bulan, dua tahun dan enam tahun. Efek samping vaksin campak yang paling umum adalah demam dan hilangnya nafsu makan.

MMR

Selain vaksin campak biasa, ada pilihan alternatif yaitu vaksin MMR yang merupakan vaksin kombinasi. Vaksin ini merupakan gabungan antara vaksin campak, gondong, dan campak Jerman.

Gondong merupakan penyakit virus yang menyebabkan terjadinya pembengkakan kelenjar parotis di bawah telinga. Gejala lain dari gondong adalah demam, nyeri sendi, dan sakit kepala. Campak Jerman merupakan penyakit virus yang dapat menyebabkan nyeri sendi, batuk dan pilek, demam, pembengkakan kelenjar di sekitar kepala dan leher, serta munculnya ruam berwarna merah pada kulit.

Pemberian vaksin MMR dilakukan saat anak berusia satu tahun tiga bulan dan dapat diulang saat anak berusia enam tahun.

Efek samping vaksin MMR yang paling umum adalah demam dan efek samping yang jarang terjadi adalah sakit kepala, ruam berwarna ungu pada kulit, muntah, nyeri pada tangan atau kaki, dan leher kaku.

Banyak beredar isu negatif seputar imunisasi, salah satunya adalah isu autisme akibat pemberian vaksin MMR. Isu tersebut sama sekali tidak benar karena para ahli yang melakukan penelitian yang besar dan secara mendetail. Hingga kini tidak ditemukan kaitan yang kuat antara imunisasi MMR dengan autisme.

Hib

Vaksin Hib diberikan untuk mencegah infeksi mematikan yang disebabkan oleh bakteri haemophilus influenza tipe B. Beberapa kondisi parah yang dapat disebabkan virus Hib adalah meningitis (radang selaput otak), pneumonia (radang paru-paru), septic arthritis (radang sendi), dan pericarditis (radang kantong jantung).

Pemberian vaksin Hib harus dilakukan dalam empat dosis, yaitu saat anak berusia dua, empat, dan enam bulan. Dosis terakhir vaksin Hib diberikan pada saat anak berusia lima belas bulan hingga delapan belas bulan.

Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin Hib adalah kemerahan dan sedikit nyeri pada luka bekas suntikan.

PCV

Vaksin PCV diberikan untuk mencegah penyakit pneumonia, meningitis, dan septicaemia yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae.

Pemberian vaksin ini harus dilakukan secara berangkai, yaitu saat anak berusia dua, empat, dan enam bulan. Selanjutnya pemberian vaksin dapat kembali dilakukan saat anak berusia dua belas bulan hingga lima belas bulan. Untuk anak di atas 2 tahun yang belum pernah menerima vaksin PCV, hanya memerlukan satu kali suntik atau satu dosis untuk melindunginya dari bakteri tersebut.

Efek samping vaksin PCV yang bisa terjadi adalah pembengkakan dan warna kemerahan pada bagian yang disuntik, serta diikuti dengan demam ringan.

Rotavirus

Vaksin rotavirus merupakan jenis vaksin untuk mencegah diare. Pemberian vaksin ini dilakukan secara berangkai, yaitu pada saat anak berumur dua, empat, dan enam bulan. Efek samping vaksin rotavirus yang paling umum adalah nyeri pada perut, mual dan muntah, demam, serta diare.

Varisela

Vaksin varisela merupakan vaksin untuk mencegah penyakit cacar air yang disebabkan oleh virus varicella zoster. Vaksin ini hanya bisa diberikan pada anak berusia satu tahun ke atas. Vaksin terhadap cacar air ini hanya cocok untuk mereka yang belum pernah terkena cacar air. Dosis vaksin yang diperlukan hanya satu kali.

HPV

Vaksin HPV diperuntukkan kepada remaja perempuan untuk mencegah kanker serviks atau kanker pada leher rahim yang sebagian besar kasusnya disebabkan oleh virus human papillomavirus. Vaksin ini dapat diberikan sejak usia dua belas tahun dengan frekuensi pemberian sebanyak tiga kali. Jarak antara dosis pertama dan kedua adalah 2 bulan, sedangkan jarak antara dosis pertama dan ketiga adalah 6 bulan. Efek samping pemberian vaksin HPV yang bisa muncul adalah demam, sedangkan yang tergolong lebih jarang adalah batuk, gatal-gatal, dan ruam pada kulit.

Hepatitis A

Pemberian vaksin hepatitis A hanya bisa dianjurkan untuk anak berusia dua tahun ke atas dan terdiri dari dua dosis yang jaraknya 6 bulan. Efek samping vaksin hepatitis A yang umum adalah demam dan rasa lelah, sedangkan efek samping yang tergolong jarang adalah gatal-gatal, batuk, sakit kepala, dan hidung tersumbat.

Tifus

Vaksin tifus diberikan untuk mencegah tifus yang disebabkan oleh bakteri salmonella typhi. Gejala penyakit ini sebenarnya tergolong umum, yaitu demam, diare, dan sakit kepala. Namun jika tidak segera ditangani, gejala tersebut bisa memburuk, dan menyebabkan berbagai komplikasi seperti infeksi usus dan pendarahan dalam.

Pemberian vaksin tifus bisa dilakukan pada saat anak telah berusia dua tahun frekuensi pengulangan tiap tiga tahun sekali. Vaksinasi tifus tidak termasuk vaksinasi wajib dan tidak cocok bagi mereka dengan kekebalan tubuh yang rendah seperti penderita HIV.

Efek samping vaksin tifus yang paling umum adalah diare, mual, sakit kepala, dan nyeri pada bagian perut.

Influenza

Vaksin influenza diberikan untuk mencegah virus-virus influenza. Vaksinasi pada anak-anak bisa dilakukan sejak mereka berusia enam bulan hingga 18 tahun dengan frekuensi pengulangan satu kali tiap tahunnya. Vaksin influenza bukan termasuk vaksinasi wajib dan biasanya hanya dianjurkan untuk orang-orang dengan kekebalan tubuh yang rendah. Efek samping vaksin influenza di antaranya adalah demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala. Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah bersin-bersin, sesak napas, sakit pada telinga, dan gatal-gatal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *